Mi instan. Kenikmatan dalam MSG dan pengawet. Hahaha, lebay.
Waktu saya masih kecil, mama saya hanya membolehkan saya dan adik saya makan mi instan dua kali dalam sebulan, jadi dalam dua kesempatan itu rasanya seperti, hmmm, surga. Hahaa. Salah satu teman kecil saya waktu itu sering main ke rumah, dan buat dia rumah saya adalah pelarian, karena di rumahnya sang ibu melarang keberadaan mi instan. Setiap dia ke rumah saya, pasti kita makan mi instan.
Masa SMA, karena saya bersekolah di sekolah berasrama yang melarang kita untuk makan mi instan, sekalinya kita dapat kesempatan, rasanya sangat epic! Haha.. Tapi setelah beberapa kali travelling dan tinggal di luar negeri, saya sangat bosan dengan mi instan.
Ehm, oke tulisan ini mulai terlihat absurd.
Disaat kita dilarang untuk berbuat sesuatu, insting kita adalah untuk melanggarnya. Padahal hal yang dilarang itu juga belum tentu separah itu. Karena dulu saya tidak dilarang, maka saya melihat mi instan sebagai sebuah pilihan, pilihan antara enak dan sehat. Because humans are curious creatures.

No comments:
Post a Comment