Tuesday, 13 September 2011

Misunderstood

Waktu saya berusia 4 tahun saya pernah disengat lebah, tepatnya di telapak tangan. Waktu itu saya belum mengerti kenapa lebah itu menyerang saya dan otomatis saya jadi berasumsi bahwa lebah itu binatang jahat. Saya jadi trauma dengan lebah, panik jika ada lebah terbang mendekat. Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa ketakutan saya itu hanya disebabkan oleh keinginan untuk merasa takut, bahwa tidak akan ada efek yang ditimbulkan oleh rasa takut saya itu. Sehingga sedikit-sedikit saya mencoba untuk menghilangkan rasa takut itu, dan ternyata itu tidak sulit. Ya, saya memang masih agak bergidik setiap melihat lebah, tapi toh mereka tidak akan mengganggu saya. Saya telah salah mengerti tentang lebah.

Sama seperti saya terhadap lebah, manusia selalu salah mengerti. Salah mengerti tentang manusia lain, tentang alam, tentang kejadian, keadaan, bahkan tentang dirinya sendiri. Sangat manusiawi, memang, tetapi bisa dihilangkan. Asal muasal salah pengertian adalah prasangka, maka hilangkanlah prasangka saat memulai apapun.

Ah, saya! Saya bermimpi untuk keliling dunia, karena saya ingin meletuskan balon-balon yang menghalangi saya untuk melihat dengan jernih, tentang dunia. Saya ingin mencicipi semua hidangan yang ada, karena buat saya lidah adalah indera yang paling bisa membuat saya merasakan kepuasan maksimal. Saya berkelana dalam buku dan layar perak. Saya menulis untuk berbagi.

Selamat datang!

A misunderstood beauty.

3 comments:

  1. hi sist. .
    terimakasih telah tidak sengaja menyasar di blog saya. .it's a great honor. .
    kalau boleh saya cantumkan blog anda di blogroll saya?

    ReplyDelete
  2. haha iya kemaren lagi blogsurfing and i found your blog so interesting :) wah that would be awesome! thanks sist!

    ReplyDelete